Selasa, 14 Juni 2011

Masyarakat Samin di Tengah Arus Modernisasi ; Transformasi Pertanian Pasca Revolusi Hijau

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pembangunan pertanian pada dasarnya adalah proses transformasi
pertanian, yaitu suatu proses perubahan pada berbagai aspek di bidang
pertanian. Perubahan tersebut tidak hanya berupa mekanisasi dan
teknologi namun lebih jauh lagi pada kelembagaan ekonomi dan sosial
pertanian. Sebagai negara agraris, sebagian besar penduduk pedesaan di
Indonesia menggantungkan hidupnya dari bidang pertanian. Dengan
demikian proses transformasi pertanian dapat dikatakan sebagai proses
transformasi pedesaan. Proses ini menyentuh seluruh lapisan masyarakat
di penjuru Indonesia.

Indonesia adalah sebuah negara majemuk. Kemajemukan ini ditandai oleh
adanya suku-suku bangsa yang tentunya masing-masing mempunyai budaya
yang berbeda. Suku bangsa ini seringkali dikatakan sebagai kelompok
etnik. Barth (1969), menyatakan bahwa pada umumnya kelompok etnik
dikenal sebagai populasi yang secara biologis mampu berkembang biak
dan bertahan.

Masyarakat Samin dengan berbagai tradisi dan budayanya serta memiliki
ciri-ciri yang diungkapkan oleh Barth, bisa dikatakan salah satu
kelompok etnik yang ada di Indonesia. Bahkan Pemerintah Propinsi Jawa
Tengah telah mengakui masyarakat Samin ini sebagai salah satu kelompok
etnik yang ada di Jawa Tengah dari empat etnik yang ada. Komunitas
Samin ialah sekelompok orang yang mengikuti ajaran Samin Surosentiko
yang muncul pada masa kolonial Belanda. Pada masa lalu masyarakat
Samin dapat diidentifikasikan sebagai masyarakat yang ingin
membebaskan dirinya dari ikatan tradisi besar yang dikuasai oleh elit
penguasa.

Masyarakat Samin sebagai salah satu kelompok etnik yang ada di
Indonesia tentu memiliki nilai-nilai budaya yang berbeda dengan
masyarakat lainnya. Di usia yang sudah satu abad lebih ini masyarakat
Samin sudah mengalami perubahan pada pranata sosial dan kebudayaan
yang selama ini mereka anut. Tradisi Saminisme sekarang sudah berubah,
artinya Saminisme sudah bukan lagi menjadi kebanggaan dalam struktur
sosial diamana mereka hidup. Apabila ditinjau dari sistem nilai,
Saminisme sudah tidak lagi menjadi aturan dalam pluralitas nilai yang
berada di tengah-tengah mereka.

Modernisasi dalam lingkup masyarakat tradisional akan menimbulkan
implikasi terhadap masyarakat tersebut. Masyarakat tradisional
bagaimanapun masih menjunjung tinggi nilai-nilai yang diwarisi secara
turun temurun dari nenek moyangnya dulu. Karena itu kelompok
masyarakat seperti ini telah memiliki pola budaya tertentu, sedangkan
modernisasi tentu akan membawa pola budaya baru bagi masyarakat
tersebut yang mungkin berbeda dengan norma serta nilai yang lama.

Perumusan Masalah

Proses transformasi pertanian yang gencar dilakukan oleh pemerintah
sejak lama dengan konsep revolusi hijaunya mau tidak mau juga
menyentuh masyarakat Samin. Pada dasarnya pengertian modernisasi
mencakup suatu transformasi total kehidupan bersama yang tradisional
atau pra modern dalam arti teknologi serta organisasi sosial menuju
kearah pola-pola ekonomis dan politis yang menjadi ciri negara barat
yang stabil. Modernisasi adalah suatu persoalan yang harus dihadapi
oleh masyarakat. Setiap manusia dalam masyarakat sangat sulit untuk
lepas dari pengaruh modernisasi yang melanda dunia saat ini. Demikian
pula dengan masyarakat Samin dengan segala keunikan dan
keterbatasannya. Masyarakat Samin yang kini terkepung oleh kemajuan
budaya di sekitarnya sudah tidak mampu lagi untuk membendung masuknya
kebudayaan baru tersebut. Nilai-nilai budaya masyarakat Samin semakin
tersisih dan berganti dengan nilai budaya baru. Perubahan sosial
budaya ini dibatasi pada aspek tata nilai, norma dan kelembagaan pada
masyarakat Samin.

Perubahan budaya yang terjadi pada masyarakat Samin tentu disebabkan
oleh banyak faktor, baik faktor dari luar maupun dari dalam masyarakat
sendiri. Pembangunan yang selama ini disalahkan sebagai penyebab
perubahan budaya masyarakat tentu memiliki andil yang cukup besar
dalam menyebabkan perubahan budaya masyarakat Samin. Pembangunan
identik dengan modernisasi dengan segala dampaknya baik yang positif
untuk kemajuan masyarakat maupun dampak negatif berupa hilangnya
tatanan nilai dan norma budaya warisan leluhur.

Secara garis besar permasalahan yang akan dikaji dalam tulisan ini adalah :

1. Bagaimana transformasi pertanian yang terjadi pada masyarakat Samin?
2. Bagaimana dampak transformasi pertanian pada masyarakat Samin?

Tujuan

Tujuan tulisan ini adalah untuk :

1. Menjelaskan transformasi pertanian yang terjadi pada masyarakat Samin.
2. Menjelaskan dampak transformasi pertanian pada masyarakat Samin.

KERANGKA TEORITIS

Perspektif Tentang Perubahan

Perkembangan masyarakat seringkali dianalogikan seperti halnya proses
evolusi. suatu proses perubahan yang berlangsung sangat lambat.
Pemikiran ini sangat dipengaruhi oleh hasil-hasil penemuan ilmu
biologi, yang memang telah berkembang dengan pesatnya. Peletak dasar
pemikiran perubahan sosial sebagai suatu bentuk "evolusi" antara lain
Herbert Spencer dan August Comte. Keduanya memiliki pandangan tentang
perubahan yang terjadi pada suatu masyarakat dalam bentuk perkembangan
yang linear menuju ke arah yang positif. Perubahan sosial menurut
pandangan mereka berjalan lambat namun menuju suatu bentuk
"kesempurnaan" masyarakat (Etzioni, 1973).

Pemikiran Spencer sangat dipengaruhi oleh ahli biologi pencetus ide
evolusi sebagai proses seleksi alam, Charles Darwin, dengan
menunjukkan bahwa perubahan sosial juga adalah proses seleksi.
Masyarakat berkembang dengan paradigma Darwinian: ada proses seleksi
di dalam masyarakat kita atas individu-individunya. Spencer
menganalogikan masyarakat sebagai layaknya perkembangan mahkluk hidup.
Manusia dan masyarakat termasuk didalamnya kebudayaan mengalami
perkembangan secara bertahap. Mula-mula berasal dari bentuk yang
sederhana kemudian berkembang dalam bentuk yang lebih kompleks menuju
tahap akhir yang sempurna.

Menurut Spencer, suatu organisme akan bertambah sempurna apabila
bertambah kompleks dan terjadi diferensiasi antar organ-organnya.
Kesempurnaan organisme dicirikan oleh kompleksitas, differensiasi dan
integrasi. Perkembangan masyarakat pada dasarnya berarti pertambahan
diferensiasi dan integrasi, pembagian kerja dan perubahan dari keadaan
homogen menjadi heterogen. Spencer berusaha meyakinkan bahwa
masyarakat tanpa diferensiasi pada tahap pra industri secara intern
justru tidak stabil yang disebabkan oleh pertentangan di antara mereka
sendiri. Pada masyarakat industri yang telah terdiferensiasi dengan
mantap akan terjadi suatu stabilitas menuju kehidupan yang damai.
Masyarakat industri ditandai dengan meningkatnya perlindungan atas hak
individu, berkurangnya kekuasaan pemerintah, berakhirnya peperangan
antar negara, terhapusnya batas-batas negara dan terwujudnya
masyarakat global.

Seperti halnya Spencer, pemikiran Comte sangat dipengaruhi oleh
pemikiran ilmu alam. Pemikiran Comte yang dikenal dengan aliran
positivisme, memandang bahwa masyarakat harus menjalani berbagai tahap
evolusi yang pada masing-masing tahap tersebut dihubungkan dengan pola
pemikiran tertentu. Selanjutnya Comte menjelaskan bahwa setiap
kemunculan tahap baru akan diawali dengan pertentangan antara
pemikiran tradisional dan pemikiran yang berdifat progresif.
Sebagaimana Spencer yang menggunakan analogi perkembangan mahkluk
hidup, Comte menyatakan bahwa dengan adanya pembagian kerja,
masyarakat akan menjadi semakin kompleks, terdeferiansi dan
terspesialisasi.

Membahas tentang perubahan sosial, Comte membaginya dalam dua konsep
yaitu social statics (bangunan struktural) dan social dynamics
(dinamika struktural). Bangunan struktural merupakan struktur yang
berlaku pada suatu masa tertentu. Bahasan utamanya mengenai struktur
sosial yang ada di masyarakat yang melandasi dan menunjang kestabilan
masyarakat. Sedangkan dinamika struktural merupakan hal-hal yang
berubah dari satu waktu ke waktu yang lain. Perubahan pada bangunan
struktural maupun dinamika struktural merupakan bagian yang saling
terkait dan tidak dapat dipisahkan.

Berbeda dengan Spencer dan Comte yang menggunakan konsepsi optimisme,
Oswald Spengler cenderung ke arah pesimisme. Menurut Spengler,
kehidupan manusia pada dasarnya merupakan suatu rangkaian yang tidak
pernah berakhir dengan pasang surut. seperti halnya kehidupan
organisme yang mempunyai suatu siklus mulai dari kelahiran, masa
anak-anak, dewasa, masa tua dan kematian. Perkembangan pada masyarakat
merupakan siklus yang terus akan berulang dan tidak berarti kumulatif.

Modernisasi, Berangkar dari Perspektif Idealis

Asumsi modernisasi yang disampaikan oleh Schoorl (1980), melihat
modernisasi sebagai suatu proses transformasi, suatu perubahan
masyarakat dalam segala aspek-aspeknya. Dibidang ekonomi, modernisasi
berarti tumbuhnya kompleks industri dengan pertumbuhan ekonomi sebagai
akses utama. Berhubung dengan perkembangan ekonomi, sebagian penduduk
tempat tinggalnya tergeser ke lingkungan kota-kota. Masyarakat modern
telah tumbuh tipe kepribadian tertentu yang dominan. Tipe kepribadian
seperti itu menyebabkan orang dapat hidup di dalam dan memelihara
masyarakat modern.

Sedangkan Dube (1988), berpendapat bahwa terdapat tiga asumsi dasar
konsep modernisasi yaitu ketiadaan semangat pembangunan harus
dilakukan melalui pemecahan masalah kemanusiaan dan pemenuhan standart
kehidupan yang layak, modernisasi membutuhkan usaha keras dari
individu dan kerjasama dalam kelompok, kemampuan kerjasama dalam
kelompok sangat dibutuhkan untuk menjalankan organisasi modern yang
sangat kompleks dan organisasi kompleks membutuhkan perubahan
kepribadian (sikap mental) serta perubahan pada struktur sosial dan
tata nilai. Tujuan akhir dari modernisasi adalah terwujudnya
masyarakat modern yang dicirikan oleh kompleksitas organisasi serta
perubahan fungsi dan struktur masyarakat. Secara lebih jelas Schoorl
menyajikan proses petumbuhan struktur sosial yang dimulai dari proses
perbesaran skala melalui integrasi. Proses ini kemudian dilanjutkan
dengan diferensiasi hingga pembentukan stratifikasi dan hirarki.

Motivasi teori modernisasi untuk merubah cara produksi masyarakat
berkembang sesungguhnya adalah usaha merubah cara produksi
pra-kapitalis ke kapitalis, sebagaimana negara-negara maju sudah
menerapkannya untuk ditiru. Proses modernisasi mencakup proses yang
sangat luas yang terkadang batasannya tidak dapat ditetapkan secara
mutlak. Modernisasi mencakup suatu transformasi total kehidupan
bersama yang tradisional atau pra modern dalam arti teknologi serta
organisasi sosial menuju ke arah pola-pola ekonomis dan politis yang
menjadi ciri negara barat yang stabil (Soekanto, 1990). Karakteristik
umum modernisasi yang menyangkut aspek-aspek sosio demografis
masyarakat digambarkan dengan istilah gerak sosial. Modernisasi adalah
suatu bentuk perubahan sosial yang biasanya merupakan perubahan sosial
yang terarah yang didasarkan pada perencanaan. Teori modernisasi
secara umum dapat diungkapkan sebagai cara pandang yang menjadi modus
utama analisisnya kepada faktor manusia dalam suatu masyarakat.
Modernisasi kemudian menjadi semacam komoditi di kalangan masyarakat
yang menempatkan faktor mentalitas menjadi penyebab perubahan (Salim,
2002).

Pada dasarnya, modernisasi didasarkan pada perubahan sosial dalam
perspektif idealis. Salah satu pemikir dalam kubu idealis adalah
Weber. Weber memiliki pendapat yang berbeda dengan Marx. Perkembangan
industrial kapitalis tidak dapat dipahami hanya dengan membahas faktor
penyebab yang bersifat material dan teknik. Namun demikian Weber juga
tidak menyangkal pengaruh kedua faktor tersebut. Pemikiran Weber yang
dapat berpengaruh pada teori perubahan sosial adalah dari bentuk
rasionalisme yang dimiliki. Dalam kehidupan masyarakat barat model
rasionalisme akan mewarnai semua aspek kehidupan (Harper, 1989).

Weber melihat bahwa pada wilayah Eropa yang mempunyai perkembangan
industrial kapital pesat adalah wilayah yang mempunyai penganut
protestan. Bagi Weber, ini bukan suatu kebetulan semata. Nilai-nilai
protestan menghasilkan etik budaya yang menunjang perkembangan
industrial kapitalis. Protestan Calvinis merupakan dasar pemikiran
etika protestan yang menganjurkan manusia untuk bekerja keras, hidup
hemat dan menabung. Pada kondisi material yang hampir sama, industrial
kapital ternyata tidak berkembang di wilayah dengan mayoritas
Katholik, yang tentu saja tidak mempunyai etika protestan (Harper,
1989).

Harper (1989), menjelaskan bahwa Lewy sependapat dengan Weber tentang
peranan ideologi dalam perubahan sosial. Lewy mengambil contoh sejarah
yang menggambarkan bahwa nilai-nilai ideologi mempengaruhi arah
perubahan. Dia menyebutkan adanya pemberontakan Puritan di Inggris,
kebangkitan kembali Islam di Sudan, pemberontakan taiping dan bokser
di China. Seperti halnya Weber, Lewy tidak menyangkal bahwa kondisi
material mempengaruhi perubahan sosial. Namun demikian kita tidak
dapat hanya memahami perubahan sosial yang terjadi hanya dari faktor
material saja.

Perubahan Sosial dan Perubahan Kebudayaan

William F. Ogburn dalam Moore (2002), berusaha memberikan suatu
pengertian tentang perubahan sosial. Ruang lingkup perubahan sosial
meliputi unsur-unsur kebudayaan baik yang material maupun immaterial.
Penekannya adalah pada pengaruh besar unsur-unsur kebudayaan material
terhadap unsur-unsur immaterial. Perubahan sosial diartikan sebagai
perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat.

Definisi lain dari perubahan sosial adalah segala perubahan yang
terjadi dalam lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat, yang
mempengaruhi sistem sosialnya. Tekanan pada definisi tersebut adalah
pada lembaga masyarakat sebagai himpunan kelompok manusia dimana
perubahan mempengaruhi struktur masyarakat lainnya (Soekanto, 1990).
Perubahan sosial terjadi karena adanya perubahan dalam unsur-unsur
yang mempertahankan keseimbangan masyarakat seperti misalnya perubahan
dalam unsur geografis, biologis, ekonomis dan kebudayaan. Sorokin
(1957), berpendapat bahwa segenap usaha untuk mengemukakan suatu
kecenderungan yang tertentu dan tetap dalam perubahan sosial tidak
akan berhasil baik.

Perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan budaya. Perubahan
dalam kebudayaan mencakup semua bagian, yang meliputi kesenian, ilmu
pengetahuan, teknologi, filsafat dan lainnya. Akan tetapi perubahan
tersebut tidak mempengaruhi organisasi sosial masyarakatnya. Ruang
lingkup perubahan kebudayaan lebih luas dibandingkan perubahan sosial.
Namun demikian dalam prakteknya di lapangan kedua jenis perubahan
perubahan tersebut sangat sulit untuk dipisahkan (Soekanto, 1990).

Perubahan kebudayaan bertitik tolak dan timbul dari organisasi sosial.
Pendapat tersebut dikembalikan pada pengertian masyarakat dan
kebudayaan. Masyarakat adalah sistem hubungan dalam arti hubungan
antar organisasi dan bukan hubungan antar sel. Kebudayaan mencakup
segenap cara berfikir dan bertingkah laku, yang timbul karena
interaksi yang bersifat komunikatif seperti menyampaikan buah pikiran
secara simbolik dan bukan warisan karena keturunan (Davis, 1960).
Apabila diambil definisi kebudayaan menurut Taylor dalam Soekanto
(1990), kebudayaan merupakan kompleks yang mencakup pengetahuan,
kepercayaan, kesenian, moral, hukum adat istiadat dan setiap kemampuan
serta kebiasaan manusia sebagai warga masyarakat, maka perubahan
kebudayaan dalah segala perubahan yang mencakup unsur-unsur tersebut.
Soemardjan (1982), mengemukakan bahwa perubahan sosial dan perubahan
kebudayaan mempunyai aspek yang sama yaitu keduanya bersangkut paut
dengan suatu cara penerimaan cara-cara baru atau suatu perbaikan dalam
cara suatu masyarakat memenuhi kebutuhannya.

Untuk mempelajari perubahan pada masyarakat, perlu diketahui
sebab-sebab yang melatari terjadinya perubahan itu. Apabila diteliti
lebih mendalam sebab terjadinya suatu perubahan masyarakat, mungkin
karena adanya sesuatu yang dianggap sudah tidak lagi memuaskan.
Menurut Soekanto (1990), penyebab perubahan sosial dalam suatu
masyarakat dibedakan menjadi dua macam yaitu faktor dari dalam dan
luar. Faktor penyebab yang berasal dari dalam masyarakat sendiri
antara lain bertambah atau berkurangnya jumlah penduduk, penemuan
baru, pertentangan dalam masyarakat, terjadinya pemberontakan atau
revolusi. Sedangkan faktor penyebab dari luar masyarakat adalah
lingkungan fisik sekitar, peperangan, pengaruh kebudayaan masyarakat
lain.

ANALISIS

Dusun Jepang, Arena Pertarungan Lokalitas dan Modernisasi

Tulisan ini mengambil lokasi di Dusun Jepang, sebuah dusun yang ada di
Desa Margomulyo Kecamatan Margomulyo Kabupaten Bojonegoro. Dusun
Jepang dikelilingi oleh hutan yang menjadikannya agak terisolasi dari
daerah sekitarnya. Letak dusun yang berada di kawasan hutan menjadikan
dusun ini sulit untuk dijangkau, terlebih lagi sarana angkutan umum
tidak tersedia. Keadaan ini agak terbantu dengan telah diaspalnya
jalan yang menghubungkan Dusun Jepang dengan ibu kota kecamatan yang
berjarak sekitar 5 kilometer. Walaupun sarana angkutan umum tidak
tersedia, jalan yang telah beraspal sangat membantu mobilitas penduduk
Dusun Jepang, terlebih saat ini banyak diantara penduduk yang telah
memiliki motor.

Untuk mencapai Dusun Jepang dapat dikatakan sangat mudah, bahkan bagi
mereka yang sama sekali belum pernah berkunjung ke daerah ini. Letak
Desa Margomulyo berada di tepi jalan kabupaten yang menghubungkan
Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Ngawi. Jalan inilah yang dilalui
oleh angkutan umum seperti colt dan bus yang menghubungkan Ngawi dan
Bojonegoro. Satu alasan lagi, yang memudahkan kita mencapai lokasi ini
adalah "ketenaran" masyarakat Samin dan tentu saja Mbah Hardjo Kardi,
sesepuh masyarakat Samin.

Desa Margomulyo mempunyai luas wilayah sebesar 1.309.169 hektar yang
terbagi menjadi delapan dusun. Sebagian besar wilayahnya merupakan
areal hutan yang dikelola oleh Perhutani. Keseluruhan luas areal hutan
mencapai 54,70 persen, sedangkan sisanya merupakan lahan pertanian
produktif serta daerah pemukiman. Areal pertanian produktif terdiri
atas lahan tegalan sebesar 23,60 persen, lahan sawah sebesar 13,20
persen dan lahan perkebunan sebesar 1,15 persen.

Areal hutan yang dikelola oleh Perhutani menyebabkan akses penduduk
sangat terbatas untuk memanfaatkan hutan. Penduduk sebatas mendapatkan
ranting-ranting jati yang digunakan untuk kayu bakar serta daun jati
sebagai pembungkus. Penduduk Dusun Jepang hampir seluruhnya
menggantungkan hidup dari pertanian. Kondisi tanah yang kurang subur
serta luas kepemilikan yang sempit menjadikan kemiskinan masih menjadi
permasalahan yang membelenggu sebagian besar penduduknya.

Penduduk Dusun Jepang berjumlah 736 jiwa yang terdiri dari 202 kepala
keluarga. Sebagian besar penduduk tidak pernah mengenyam pendidikan
terutama bagi mereka yang telah berusia diatas 40 tahun. Jumlah
penduduk yang tidak mengenyam pendidikan sebesar 42,9 persen,
sedangkan penduduk yang telah berhasil menyelesaikan pendidikan hingga
tingkat sekolah dasar mencapai 28,5 persen. Hanya sebagian kecil
penduduk yang telah mengenyam pendidikan hingga tingkat SMP dan SMA.

Secara kelembagaan, Dusun Jepang telah mempunyai beberapa jenis
lembaga kemasyarakatan. Karang taruna mulai berdiri pada tahun 1999.
Karang taruna ini bernama "Karya Bhakti". Pembentukan karang taruna
ini diprakarsai oleh kepala dusun setempat, dengan mengumpulkan
pemuda-pemuda yang ada di Dusun Jepang. Perkembangan organisasi ini
kurang begitu menggembirakan. Kegiatan karang taruna masih terbatas
pada pertemuan rutin setiap bulan. Pada setiap pertemuan diadakan
kegiatan menabung untuk menambah kas organisasi. Kegiatan produktif
masih belum ada mengingat keterbatasan dana serta partisipasi pemuda
dusun yang masih minim. Kebanyakan para pemuda lebih memilih untuk
melakukan migrasi ke daerah lain, terutama ke kota besar untuk mencari
pekerjaan.

Kelompok tani juga sudah lama berdiri di dusun ini. Ini tentunya tidak
lepas dari kondisi politik bangsa Indonesia selama orde baru. Sejak
tahun 1981 telah berdiri kelompok tani yang bernama "Panggih Mulyo".
Kelompok tani ini merupakan perwujudan formal dari paguyuban yang
telah ada di dalam masyarakat Samin di Dusun Jepang. Selama era orde
baru, setiap desa diwajibkan untuk membentuk kelompok tani dengan
struktur organisasi yang seragam. Pemerintah pada masa itu tidak
memberi kesempatan bagi kelembagaan masyarakat adat untuk berkembang
maupun sekedar bertahan.

Kelompok tani "Panggih Mulyo" dipimpin langsung oleh Mbah Hardjo
Kardi, sesepuh masyarakat setempat. Rasa percaya antara anggota dan
pengurus menjadi modal sosial yang sangat besar dalam memajukan
organisasi ini. Terlebih sifat masyarakat Samin yang mampu memegang
amanah membuat banyak pihak luar yang turut berperan serta memberikan
dana hibah kepada kelompok tani ini. Tidak mengherankan apabila banyak
proyek pembangunan yang dilaksanakan di wilayah Dusun Jepang ini.
Sedikit demi sedikit kesejahteraan masyarakat Samin akan dapat
meningkat.

Kelembagaan yang berkembang hingga saat ini adalah sinoman. Sinoman
merupakan organisasi non formal yang menjadi wadah pemuda desa.
Kegiatan sinoman terbatas pada aktivitas yang berkaitan dengan acara
hajatan. Ketika salah satu warga mempunyai hajatan, sinoman yang
bertanggung jawab untuk membantu pelaksanaan hajatan tersebut.

Masyarakat Samin, Masyarakat yang Tergusur

Masyarakat Samin masih banyak dijumpai dan mereka bertempat tinggal di
desa-desa dalam wilayah Kabupaten Bojonegoro dan Ngawi Propinsi Jawa
Timur. Sedangkan untuk wilayah Jawa Tengah tersebar di Kabupaten
Blora, Pati dan Kudus. Masyarakat Samin sebenarnya adalah etnis Jawa
namun karena mereka memiliki tata cara kehidupan bahkan tradisi yang
berbeda dengan masyarakat Jawa maka masyarakat Samin dianggap sebagai
etnis tersendiri.

Pencetus ajaran Saminisme adalah Samin Surosentiko yang lahir di Blora
pada tahun 1859. Nama asli Samin Surosentiko adalah R Kohar yang
merupakan anak dari R Surowidjoyo dan cucu dari RM Brotodiningrat yang
merupakan Bupati Sumoroto yang berkuasa pada tahun 1802-1826. R
Surowidjoyo sejak kecil dididik di lingkungan keraton dengan segala
kemewahan. Namun dalam hatinya timbul perlawanan karena mengetahui
rakyatnya sengsara oleh penjajahan Belanda. Pada tahun 1840, R.
Surowidjoyo meninggalkan keraton dan membentuk kelompok pemuda yang
dinamakan Tiyang Sami Amin. Kelompok pemuda yang dipimpinnya ini
melakukan berbagai perampokan terhadap antek-antek Belanda dan
membagikan hasilnya kepada orang miskin.

Tahun 1859 lahirlah R Kohar yang kemudian melanjutkan perjuangan
ayahnya dan memakai nama Samin Surosentiko atau Samin Anom. Berbagai
ajaran yang menyimpang dari kehidupan wajar etnis Jawa dan
pembangkangan terhadap segala kebijakan penjajah Belanda terus
disebarluaskan kepada para pengikutnya. Pada tanggal 8 Nopember 1907,
Samin Surosentiko ditangkap oleh Belanda dan diasingkan ke Digul.
Empat puluh hari sebelum penangkapan itu, Samin Surosentiko
memproklamirkan dirinya sebagai Raja Tanah Jawa. Pada tahun 1914,
Samin Surosentiko meninggal dalam pengasingannya.

Sepeninggal Samin Surosentiko, kepemimpinan Samin diwariskan kepada
Suro Kidin dan Mbah Engkrek. Suro Kidin adalah menantu Samin
Surosentiko, sedangkan Mbah Engkrek adalah salah seorang murid setia
Samin Surosentiko. Pola kepemimpinan pada masa ini tidak lagi bersifat
sentralistik namun lebih bergantung pada pemimpin lokal di
masing-masing wilayah.

Generasi berikutnya adalah Surokarto Kamidin, anak dari Suro Kidin.
Surokarto Kamidin merupakan pemimpin Samin generasi ke-3 dan menetap
di Dusun Jepang. Surokarto Kamidin memegang kepemimpinan pada masa
peralihan pendudukan Belanda dan Jepang hingga pada masa kemerdekaan.
Pada tahun 1986, Surokarto Kamidin meninggal dunia dan kepemimpinan
Samin di Dusun Jepang digantikan oleh anaknya, Hardjo Kardi hingga
saat ini.

Transformasi Pertanian; Masuknya Teknologi

Kata transformasi diambil dari terjemahan kata transformation (Bahasa
Inggris). Istilah tranform (Neufebet and Guralnik, 1988) dapat
diartikan sebagai perubahan, dan tranformation dapat diartikan sebagai
proses perubahan. Dalam arti yang lebih luas, transformasi mencakup
bukan saja perubahan pada bentuk luar, namun juga pada hakikat atau
sifat dasar, fungsi, dan struktur atau karakteristik perekonomian
suatu masyarakat. Transformasi pertanian atau agribisnis di pedesaan,
dapat diartikan sebagai perubahan bentuk, ciri, struktur, dan
kemampuan sistem pertanian yang dapat menggairahkan, menumbuhkan,
mengembangkan, dan menyehatkan perekonomian masyarakat pedesaan.

Pada masyarakat pedesaan yang tingkat perkembangan ekonominya belum
maju dan didominasi oleh sektor pertanian, transformasi pertaniannya
sekaligus dapat dipandang sebagai cerminan transformasi masyarakat
desanya. Dalam pengertian yang lebih luas yang dikaitkan dengan
perekayaan sosial-budaya pedesaan, transformasi masyarakat pedesaan
dapat dipandang sebagai proses modernisasi atau pembangunan (Dumont
dalam Pranadji, 1999). Dalam pembangunan, sektor pertanian atau
kegiatan agribisnis dapat dipandang sebagai leading sector-nya.
Pranadji (1995), menjelaskan tentang transformasi ekonomi pertanian
yang berciri budaya tradisional/subsisten ke yang berciri budaya
modern/komersial. Tansformasi pertanian di pedesaan merupakan respon
dan antisipasi terhadap tuntutan kemajuan untuk hidup lebih baik, dan
globalisasi pasar.

Transformasi pertanian yang terjadi di Dusun Jepang tidak dapat lepas
dari peran pemerintah, terutama orde baru. Kebijakan pemerintah yang
mengedepankan pada peningkatan produksi mengharuskan untuk menggunakan
berbagai teknologi. Tidak mengherankan apabila pembangunan pertanian
selama orde baru begitu gencarnya, bahkan hingga pelosok pedesaan.
Pembentukan kelompok tani serta berbagai program yang diarahkan untuk
meningkatkan produktivitas hasil pertanian terutama beras menjadi
salah satu aspek yang juga menyentuh masyarakat Samin.

Dusun Jepang berada pada daerah lahan kering dengan topografi
berbukit, sehingga produktivitas pertaniannya rendah. Komoditas yang
diusahakan antara lain padi, jagung dan kedelai. Pertanian masih
bersifat semi subsisten, sebagian besar hasil panen digunakan untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari dan hanya sebagian kecil yang dijual ke
pasar. Data produksi tidak tercatat dengan baik, namun dari hasil
wawancara dapat diketahui produksi tanaman padi mencapai 4 ton per
hektar, sedangkan untuk kedelai sebesar 3 ton per hektar.

Teknologi pertanian yang digunakan juga telah maju, hal ini terbukti
dengan telah tersedianya beberapa mesin pertanian modern. Kelompok
tani "Panggih Mulyo" telah mempunyai mesin traktor sebanyak empat
unit, pompa air sebanyak sembilan unit, mesin perontok padi sebanyak
satu unit dan sebuah mesin penggilingan padi. Mesin-mesin modern ini
sebagian besar merupakan hasil bantuan dari pemerintah melalui
proyek-proyek pembangunan pertanian yang dilaksanakan di Dusun Jepang.
Mekanisasi di bidang pertanian dimulai pada tahun 1997 atas bantuan
pemerintah propinsi Jawa Timur. Saat itu masyarakat Samin mendapatkan
bantuan berupa satu unit traktor dan dua unit mesin pompa air.

Selain mekanisasi, pertanian yang dilaksanakan oleh masyarakat Samin
juga menggunakan bahan-bahan anorganik seperti pupuk dan pestisida.
Namun penggunaannya masih dalam jumlah yang terbatas. Masyarakat Samin
menyadari bahwa penggunaan bahan kimia secara berlebih dapat merusak
lingkungan. Untuk mencukupi kebutuhan unsur hara bagi tanaman,
masyarakat Samin menggunakan pupuk kandang sebagai bahan penyubur
tanah. Penggunaan pupuk kandang telah berlangsung sejak lama dan
diwariskan secara turun temurun, terlebih sudah menjadi kebiasaan di
daerah pedesaan apabila petani memiliki hewan ternak. Hewan ternak ini
selain digunakan sebagai hewan kerja juga dijadikan sebagai tabungan
pada musim paceklik.

Proses pembuatan pupuk kandang mengalami pergeseran dari waktu ke
waktu. Pada masa lalu pembuatannya dilakukan secara sederhana tanpa
penambahan bahan lain, namun kini masyarakat Samin telah mengenal
bahan organik yang mampu meningkatkan mutu pupuk kandang dan
mempersingkat proses pembuatannya. Pengetahuan ini diperoleh dari
tenaga penyuluh lapang yang bertugas di Desa Margomulyo.

Meningkatnya produksi pertanian membawa dampak pada surplus produksi,
terutama padi. Sistem pertanian subsisten lambat laun berubah menjadi
semi komersil, bahkan beberapa petani telah sepenuhnya komersil.
Perubahan ini membawa dampak pada pola konsumsi masyarakat Samin,
terlebih arus informasi dengan derasnya masuk melalui media massa
terutama televisi. Tidak mengherankan apabila pola hidup konsumtif
sudah menggejala pada sebagian masyarakat Samin. Tidak sulit untuk
menjumpai rumah penduduk yang telah dilengkapi oleh bebagai perabotan
elektronik.

Bertahannya Kelembagaan Tradisional

Modernisasi pertanian membawa dampak pada berkurangnya kebutuhan
tenaga kerja. Tenaga kerja manusia dan hewan dapat digantikan oleh
mesin-mesin modern seperti traktor, pompa air dan mesin perontok padi.
Ramalan Marx tentang pembentukan moda produksi kapitalis pada
masyarakat Samin ternyata tidak terbukti. Konsep kepemilikan alat
produksi masih tetap mempertahankan tradisi yang telah ada.
Kepemilikan alat produksi didasarkan oleh kepemilikan komunitas,
sehingga tidak ada satu pihak pun yang akan menjadi penguasa alat
produksi. Teori kelas Marx yang menyatakan adanya pembentukan kelas
baru sebagai akibat adanya teknologi tidak terjadi pada masyarakat
Samin.

Masyarakat Samin tidak mengenal konsep majikan dan buruh. Tenaga kerja
yang dibutuhkan dalam proses produksi pertanian dilaksanakan dengan
cara-cara tradisional. Kelembagaan gotong royong berupa sambatan masih
senantiasa terpelihara hingga saat ini. Kebutuhan tenaga kerja dalam
bidang pertanian diperoleh dengan cara saling membantu antar rumah
tangga petani secara bergiliran. Pola pengupahan dalam pertanian tidak
dikenal dalam masyarakat Samin. Sebagai gantinya adalah pola saling
meminjam tenaga kerja, sehingga pengeluaran berupa upah tenaga kerja
digantikan juga dengan tenaga kerja. Sambatan juga dilakukan pada
kegiatan selain pertanian, membangun rumah misalnya.

Sambatan ini berlangsung mulai pada masa tanam hingga panen. Khusus
pada masa panen, tenaga kerja mendapatkan "upah" berupa sebagian dari
hasil panen yaitu bawon. Model ini juga dapat diartikan sebagai suatu
bentuk asuransi sosial masyarakat Samin. Ketika salah satu rumah
tangga petani mengalami kegagalan panen maka masih dapat mengandalkan
hasil bawon dari rumah tangga yang lain sebagai hasil "upah" tenaga
kerja yang diberikannya.

Sistem panen terbuka dengan menggunakan bawon merupakan sistem panen
terbuka. Pelaksanaan sistem panen ini dilakukan oleh hampir seluruh
penduduk tergantung pada jenis komoditas dan pekerjaan. Komoditas
padi, kegiatan panen didominasi oleh perempuan dengan menggunakan
ketam (ani-ani) sebagai alat untuk memotong batang atas padi.
Sedangkan laki-laki berperan dalam merontokkan gabah. Sedangkan untuk
komoditas lainnya, peran laki-laki lebih dominan.

Setelah masuknya mekanisasi pertanian, peran perempuan pada sistem
panen terbuka menjadi semakin berkurang. Penggunaan ketam digantikan
oleh sabit. Teknik pemotongan batang padi juga berubah. Orientasi
revolusi hijau untuk meningkatkan efisiensi produksi menyebabkan
berubahnya teknik panen. Penggunaan sabit memangkas waktu yang
dibutuhkan untuk melakukan pemanenan, namun alat ini tidak ramah untuk
perempuan. Peran perempuan pada sistem panen saat ini menjadi
berkurang.

Penelitian tentang kelembagaan tradisional di pedesaan Jawa memberikan
gambaran yang beragam. Ada sebagian yang masih bertahan dan sebagian
lainnya telah hilang. Penelitian Roepke memberikan gambaran tentang
bertahannya kelembagaan tradisional di tengah arus modernisasi. Namun
demikian kelembagaan tradisional ini telah termodifikasi sedemikan
rupa menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Suatu yang patut
disayangkan pada tulisan ini kekurangjelian penulis dalam menggali
modifikasi pola kelembagaan tradisional yang masih bertahan di
masyarakat Samin tersebut.

Ketika berbicara tentang perubahan sosial, kita tidak saja membahas
tentang perubahan yang terjadi. Namun lebih jauh kita juga dapat
membahas mengenai ke-tidak berubah-an yang terjadi. Fenomena
bertahannya kelembagaan tradisional seperti sambatan dan bawon menjadi
bahan kajian yang cukup menarik. Modernisasi yang terlalu
mengedepankan budaya barat sebagai patokan untuk membangun masyarakat,
telah melupakan nilai-nilai kultural masyarakat dan mengaanggap kultur
masyarakat sebagai penghambat pembangunan bahkan sebagai faktor yang
menyebabkan keterbelakangan masyarakat Indonesia. Pada kenyataannya,
masyarakat Indonesia semakin terbelakang bahkan semakin carut-marut
akibat masuknya budaya-budaya asing yang menghancurkan indegenous
knowledge masyarakat lokal. Pemerintah secara sepihak telah memutuskan
bentuk pembangunan yang dilakukan di Indonesia tanpa melibatkan
masyarakat sebagai bagian dari pembangunan. Dalam hal ini, oleh
pemerintah, masyarakat dijadikan obyek pembangunan bukan sebagai
subyek pembangunan sehingga masyarakat tidak pernah dilibatkan secara
langsung.

Masuknya beragam program pemerintah untuk mengubah kondisi masyarakat
dari keadaan terbelakang menuju kepada sebuah kemajuan, menjadikan
masyarakat terpaksa meninggalkan nilai-nilai kulturalnya. Pemerintah
selalu menganggap kondisi masyarakat adalah sebuah kondisi yang harus
mendapat pembenahan. Pembenahan yang dilakukan pemerintah terkadang
menjadi negatif setelah dilaksanakan pada masyarakat yang memiliki
nilai kultural yang bertolak belakang dengan program pembangunan
pemerintah. Dampak yang ada di masyarakat sebagai akibat dari
pembangunan, yang tidak jarang berdampak negatif, dijelaskan oleh Dove
(1985) sebagai sebuah biaya yang harus menjadi tanggungan masyarakat
dari pelaksanaan pembangunan dan modernisasi yang dilakukan oleh
pemerintah.

Transformasi Pertanian dan Gerak Penduduk; Agen Perubahan

Seperti diulas di depan, masuknya mekanisasi pertanian menyebabkan
berkurangnya kebutuhan tenaga kerja per luasan lahan. Tenaga kerja
manusia digantikan oleh tenaga kerja mesin atau teknologi lainnya yang
lebih efisien. Fenomena ini menyebabkan semakin meningkatnya migrasi
tenaga kerja pertanian ke sektor non pertanian, terutama ke kota-kota
besar.

Generasi muda Samin yang telah mengenyam pendidikan seiring masuknya
program pendidikan sudah tidak tertarik lagi pada sektor pertanian.
Pola hidup konsumtif menyebabkan kebutuhan akan penghasilan yang besar
semakin meningkat pula. Sektor pertanian dipandang sebagai sektor yang
kurang menjanjikan. Tidak mengherankan apabila migrasi desa kota,
bahkan migrasi internasional menjadi gejala yang umum pada generasi
muda Samin. Kebanyakan mereka bekerja di kota-kota besar di sekitar
Bojonegoro. Tidak jarang pula kini ditemui generasi muda Samin bekerja
di sektor pemerintahan. Bahkan salah satu anak laki-laki dari Mbah
Hardjo Kardi bekerja sebagai PNS di kantor kecamatan Margomulyo.

Peran migran dalam perubahan sosial pada masyarakat Samin sangat
besar. Migran dapat berperan sebagai agen perubahan dengan membawa
nilai-nilai baru yang mereka peroleh dari tempat mereka bekerja,
terutama kota-kota besar. Selain peran agen perubahan tersebut,
derasnya arus informasi dari luar melalui media televisi turut
menyumbangkan perannya dalam perubahan sosial.

Transformasi Pertanian; Perspektif Idealis

Suatu yang menarik ketika masyarakat Samin di satu sisi menerima
kehadiran teknologi di bidang pertanian, namun di sisi lainnya mereka
masih tetap memegang teguh nilai-nilai tradisional yang mereka anut.
Transformasi pertanian yang terjadi hanya sebatas pada cara produksi
tanpa merubah struktur sosial masyarakat. Kelas-kelas sosial yang
terbentuk dengan adanya tranformasi pertanian, yaitu kelas pemilik
tanah dan buruh tani tidak terbentuk pada masyarakat Samin.

Pespektif idealis yang memandang proses perubahan disebabkan oleh
perubahan budaya non material tampaknya lebih bisa diterima apabila
digunakan untuk membedah kasus masyarakat Samin. Perubahan budaya non
material yang paling tampak adalah sikap keterbukaan pada masyarakat
Samin. Terlebih ketika pendidikan formal mulai masuk ke Dusun Jepang.

Nilai-nilai yang berlaku pada masyarakat Samin pada masa lampau
merupakan perwujudan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda.
Perlawanan yang dilakukan oleh masyarakat Samin tidak diwujudkan dalam
bentuk perlawanan fisik, namun dalam bentuk pembangkangan. Masyarakat
Samin menolak membayar pajak dan berlaku seenaknya ketika menghadapi
Belanda. Pembangkangan ini bahkan dapat dikatakan sebagai bentuk
perilaku yang nyeleneh atau kurang waras. Sebagai contoh apabila
ditanya akan pergi kemana? Mereka menjawab ke depan. Dari mana? Dari
belakang. Apa pekerjaanmu? Laki (bersetubuh). Jawaban yang diberikan
sekilas memang sekenanya, namun apabila dikaji lebih jauh jawaban yang
diberikan tetap memegang teguh prinsip kejujuran, sebuah nilai yang
harus dipegang teguh oleh masyarakat Samin.

Keterbukaan masyarakat Samin mulai terjadi ketika pemerintah orde baru
gencar melaksanakan program pembangunan di segala bidang. Modernisasi
dipandang sebagai sebuah ide yang harus ditransformasikan kepada
seluruh lapisan masyarakat. Modernisasi beranggapan bahwa apabila
ingin mencapai kemajuan maka nilai tradisional yang ada harus
digantikan dengan nilai baru yang lebih modern. Ide dianggap sebagai
sumber perubahan, namun demikian perspektif ini juga tidak menampik
adanya teknologi. Modernisasi juga memperkenalkan adanya teknologi
baru. Ideologi mampu menyebabkan perubahan paling tidak melalui tiga
cara yang berbeda, yaitu :

1. Ideologi dapat melegitimasi keinginan untuk melakukan perubahan.
2. Ideologi mampu menjadi dasar solidaritas sosial yang dibutuhkan
untuk melakukan perubahan.
3. Ideologi dapat menyebabkan perubahan melalui menyoroti perbedaan
dan permasalahan yang ada pada masyarakat.

SIMPULAN

Masyarakat Samin di Dusun Jepang telah mengalami banyak perubahan dan
akan terus berlangsung seiring pembangunan "ala" modernisasi yang
dilaksanakan oleh pemerintah. Sejauh ini perubahan yang terjadi berupa
transformasi pertanian yang dicirikan oleh perubahan moda produksi
dari yang semula subsisten menjadi komersialis. Transformasi pertanian
yang terjadi ditandai pula dengan masuknya teknologi pertanian berupa
mekanisasi pertanian. Mekanisasi pertanian atau lebih tepatnya
modernisasi pertanian merupakan salah satu kebijakan pembangunan
pertanian pemerintah orde baru yang bertujuan untuk meningkatkan
produktivitas pertanian di Indonesia.

Modernisasi pertanian membawa dampak pada perubahan pola konsumsi
masyarakat Samin. Gaya hidup konsumtif sudah mulai menggejala sebagai
akibat sistem pertanian yang komersil. Modernisasi pertanian juga
membawa dampak pada menurunnya kebutuhan tenaga kerja pada sektor
pertanian. Seiring dengan modernisasi pertanian tersebut semakin
banyak warga masyarakat Samin yang melakukan migrasi ke sektor non
pertanian terutama industri dan jasa di kota-kota besar di sekitar
Dusun Jepang. Suatu temuan yang menarik adalah tidak berubahnya sistem
kelembagaan sambatan dan bawon. Sampai saat ini masyarakat Samin tidak
menerapkan sistem kerja upahan pada sektor pertaniannya.

DAFTAR PUSTAKA

Barth, Frederik. 1969. Kelompok Etnis dan Batasannya. UI Press. Jakarta.

Davis, Kingsley. 1960. Human Society. The Macmillan Company. New York.

Etzioni, A. & Halevy, Eva Etzioni- (eds). 1973. Social Changes:
Sources, Patterns and Consequences. Basic Books, New York.

Harper, Charles L. 1989. Exploring Social Change. Prentice Hall. New Jersey.

Moore, Wilbert E. 2000. Social Change. The Macmillan Company. New York.

Neufeldt,V. and D.B. Guralnik. 1988. Webster's New Woprld Dictionary
of American English. Webter's New World. New York.

Pranadji, T. 1995. Wirausaha, kemitraan Dan Pengembangan Agribisnis
Secara Berkelanjutan. Analisis CSIS, XIV (5): 332-343. Center of
Strategic and International Studies. Jakarta.

, T. 1999. Perekayaan Sosio – Budaya Dalam Percepatan Tranformasi
Masyarakat Pedesaan Secara Berkelanjutan. Pusat Penelitian Sosial
Ekonomi Pertanian. Bogor.

Schoorl, J.W. 1980. Modernisasi: Pengantar Sosiologi Pembangunan
Negara-Negara Sedang Berkembang. PT. Gramedia, Jakarta.

Dube, S.C. 1988. Modernization and Development: The Search for
Alternative Paradigms. Zed Books Ltd, London.

Salim, Agus. 2002. Perubahan Sosial. Tiara Wacana. Yogyakarta.

Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Rajawali Pers. Jakarta.

Soemardjan, Selo. 1986. Perubahan Sosial di Yogyakarta. UGM Press. Yogyakarta.

Sorokin, Pitirim A. 1957. Social and Cultural Dynamics. Sargent. Boston.

http://learning-of.slametwidodo.com/2008/02/01/masyarakat-samin-di-tengah-arus-modernisasi-transformasi-pertanian-pasca-revolusi-hijau/#more-77

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar